Jumat, 26 Februari 2010
Penalaran Deduktif
_____________________________________
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan
melalui penalaran tersebut mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu cara
dan prsedur tertentu. Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan
menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan seperti ini disebut sebagai logika. Logika dapat didiefinisikan
secara luas sebagai pengkajian untuk berpikir secara valid. Dalam penalaran ilmiah, sebagai proses untuk mencapai
kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif
berkaitan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata yang sifatnya khusus dan telah diakui
kebenarannya secara ilmiah menjadi sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif adalah
penarikan kesimpulan yang diperoleh dari kasus yang sifatnya umum menjadi sebuah kesmpulan yang ruang lingkupnya
lebih bersifat individual atau khusus.
Induksi merupkan cara berpikir dengan menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat
individual. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataaann-pernyataan yang ruang lingkupnya khas
dan terbatas dalam menysusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Misalkan kita
mempunyai fakta bahwa katak makan untuk mempertahankan hidupnya, ikan , sapi, dan kambing juga makan untuk
mempertahankan hidupnya, maka dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa semua hewan makan untuk
mempertahankan hidupnya. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya karena mempunyai dua keuntungan.
Keuntungan yang pertama adalah pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis, maskudnya melalui reduksi
terhadap berbagai corak dan sekumpulan fakta yang ada dalam kehidupan yang beraneka ragam ini dapat dipersingkat
dan diungkapkan menjadi beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah sekedar koleksi dari
berbagai fakta melainkan esensi dan juga fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta yang
dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dari objek tertentu melainkan menekankan kepada
strukstur dasar yang menyangga wujud fakta. Sebagai contoh, bagaimanapun lengkapnya dan cermatnya sebuah
pernyataan dibuat untuk mengungkapkan betapa nikmatnya hubungan intim dirasakan seorang wanita atas keinginan
suka sama suka dan perihnya hubungan intim karena pemerkosaan, tidak mungkin dapat merreproduksikan hal itu.
Pengetahuan cukup puas dengan pernyataan elementer yang bersifat kategoris bahwa hubungan intim atas dorongan
suka sama suka indah, nikmat, dan hubungan intim karena pemerkosaan sangatlah menyakitkan. Pernyataan seperti ini
sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoritis.
Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik
secara induktif maupun deduktif. Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan
pernyataan yang bersifat lebih umum lagi. Misalkan dari contoh sebelumnya bahwa kesimpulan semua hewan perlu
makan untuk mempertahankan hidupnya, kemudian dari kenyataan bahwa manusia juga perlu makan untuk
mempertahankan hidupnya, maka dapat dibuat lagi kesmpulan bahwa semua mahluk hidup perlu makan untuk
mempertahankan hidupnya. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang
mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang main lama makin bersifat fundamental.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Deduksi adalah cara berpikir di
mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikkan kesimpulan secara
deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah
pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian
dibedakan menjadi premsi mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran
deduktif berdasarkan kedua premis tersbut. Dari contoh sebelumnya misalkan kita menyusun silogisme sebagai berikut.
Semua mahluk hidup perlu makan untuk mempertahanka hidupnya (Premis mayor)
Joko adalah seorang mahluk hidup (Premis minor)
Jadi, Joko perlu makan untuk mempertahakan hidupnya (Kesimpulan)
Kesimpulan yang diambil bahwa Joko juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah menurut
penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Pertanyaan apakah
kesimpulan ini benar harus dikembalikan kepada kebenaran premis-premis yang mendahuluinya. Apabila kedua premis
yang mendukungnya benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. Mungkin saja
kesimpulannya itu salah, meskipun kedua kedua premisnya benar, sekiranya cara penarikkan kesimpulannya tidak sah.
Dengan demikian maka ketepatan penarkkan kesimpulan tergantung dari tiga hal yaitu kebenaran premis mayor,
kebenaran premis minor, dan keabsahan penarikan kesimpulan. Apabila salah satu dari ketiga unsur itu persyaratannya
tidak terpenuhi dapat dipastikan kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun
secara deduktif.
Logika merupakan salah satu dasar atau landasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui kedua metode
penalaran yang dikembangkan dalam metode ilmiah tersebut ilmu pengetahuan berkembang hingga sekarang ini. Faktafakta
ilmiah yang telah terkumpul dijadikan landasan dan acuan guna mengembangkan pengetahuan baru berdasarkan
fakta-fakta ilmiah sebelumnya. Hal ini begitu penting dan menjadi perhatian bahwa dalam menyusun sebuah karya ilmiah
fakta ilmiah yang dijadikan landasan merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan. Dalam membuat hipotesis mengenai
sesuatu yang kita kaji landasan fakta ilmiah memberikan arah yang memudahkan kita dalam mencapainya. Sedangkan
kebenaran hipotesis yang kita buat dibuktikan menurut fakta empiris yang kita peroleh. Ilmu pengetahuan sulit
berkembang tanpa landasan fakta ilmiah, sebagaimana yang terjadi di abad pertengahan yang di sebut sebagai The
Dark Age karena berbagai hal terutama masalah rasial dan sikap tertutup terhadap fakta ilmiah.
============================================================================
Daftar Pustaka
Dipublikasikan oleh Reni Maria
Diambil Dari : http://sman11mks.com/index.php
Bahasa Indonesia dan Era Globalisasi
Bahasa Indonesia dan Era Globalisasi
Bahasa Indonesia dan Era Globalisasi
Bahasa Indonesia dan Era Globalisasi |
Ejaan Yang Disempurnakan
Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD dalam Bahasa Indonesia
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia,
Nomor 0543a/U/1987,
tanggal 9 September 1987
Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional
Republik Indonesia
I. PEMAKAIAN HURUF
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf
A a
B b
C c
D d
E e
F f
G g
H h
I i
J j
K k
L l
M m
N n
O o
P p
Q q
R r
S s
T t
U u
V v
W w
X x
Y y
Z z
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
E. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
F. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokl, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Misalnya: ba-pak, ba-rang, ke-nyang
c. Jika di tengah kata ada huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua hufur konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya: man-di, som-bong
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: in-strumen, in-fra
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
II. PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk mengaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
III. PENULISAN KATA
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya: ibu, percaya, kantor
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya: dikelola, bergeletar, penetapan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Mislanya: menggarisbawahi, penghacurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: adipati, mahasiswa, mancanegara
C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, gerak-gerik
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazin disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya: duta besar, orang tua, kambing hitam
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. Misalnya: alat pandang-dengar
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya: acapkali, matahari, manasuka
E. Kata Ganti –ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: kumiliki, kauambil, bukuku, rumahmu, bajunya
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Misalnya: di lemari ke pasar, dari Banjarmasin
G. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: sang Kancil, si pengirim
H. Partikel
1. Paratikel –lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik.
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: …per 1 April.
I. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:A.S. Kramawijaya
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misanya: DPR
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll.
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya: Cu, TNT, Rp
2. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI, LAN, IKIP
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital Misalnya: Akabri, Bappenas
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu, radar, rapim
J. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi. Angka Arab: 0, 1, 2 Angka Romawi: I, II
2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Misalnya: 0,5 sentimeter, 100 yen
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya: Jalan Tanah Abang I No. 15
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 252
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh. Misalnya: dua puluh dua, dua ratus dua puluh dua
b. Bilangan pecahan. Misalnya: seperenam belas, tiga dua pertiga
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut. Misalnya: Paku Buwono X, Bab II, Tingkat V, Abad ke-20
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. Misalnya: tahun ’50-an, uang 5000-an
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilagan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya: Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, sesunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Misalnya: Perusahaan itu baru saja mendapat pinaman 250 juta rupiah.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misalnya: Kantor kami memunyai dua puluh orang pegawai.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya: Saya lampirkan tanda uang sebesar Rp 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan dengan bentuk asalnya.
V. PEMAKAIAN TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
B. Tanda Koma (,)
C. Tanda Titik Koma (;)
D. Tanda Titik Dua (:)
E. Tanda Hubung (-)
F. Tanda Pisah (—)
G. Tanda Elipsis (…)
H. Tanda Tanya (?)
I. Tanda Seru (!)
J. Tanda Kurung ( (…) )
K. Tanda Kurung Siku ( […] )
L. Tanda Petik ( “…” )
M. Tanda Petik Tunggal ( ‘…’ )
N. Tanda Garis Miring (/)
O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
karangan
Narasi
Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
- Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
- Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
- Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.[rujukan?]
- (What) Apa yang akan diceritakan,
- (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
- (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
- (Who) Siapa pelaku ceritanya,
- (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
- (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
Contoh
Contoh narasi berisi fakta:
Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.
Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.
Contoh narasi fiksi:
Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
Deskripsi
Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:
- menggambarkan atau melukiskan sesuatu,
- penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,
- membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
Pola pengembangan paragraf deskripsi:
- Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
- Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
- Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.
Langkah menyusun deskripsi:
- Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
- Tentukan tujuan
- Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
- Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
- Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan
Contoh
Contoh topik yang tepat untuk karangan deskripsi:
- Keindahan Bukit Kintamani
- Suasa pelaksanaan Promosi Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional
- Keadaan ruang praktik
- Keadaan daerah yang dilanda bencana
Contoh deskripsi berupa fakta:
Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.
Contoh deskripsi berupa fiksi:
Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.
Eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi:
- Menentukan topik/tema
- Menetapkan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
- Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
Contoh
Contoh topik yang tepat untuk eksposisi:
- Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
- Peranan majalah dinding di sekolah
- Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.
Contoh karangan eksposisi pada umumnya:
Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.
Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.
Contoh paparan proses yang juga merupakan bentuk eksposisi:
Cara mencangkok tanaman:
- Siapkan pisau, tali rafia, tanah yang subur, dan sabut secukupnya.
- Pilihlah ranting yang tegak, kekar, dan sehat dengan diameter kira-kira 1,5 sampai 2 cm.
- Kulit ranting yang akan dicangkok dikerat dan dikelupas sampai bersih kira-kira sepanjang 10 cm.
Argumentasi
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
Langkah menyusun argumentasi:
- Menentukan topik/tema
- Menetapkan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
- Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi
Contoh
Contoh tema/topik yang tepat untuk argumentasi:
- Disiplin kunci sukses berwirausaha,
- Teknologi komunikasi harus segera dikuasai,
- Sekolah Menengah Kejuruan sebagai aset bangsa yang potensial.
Contoh karangan argumentasi pada umumnya:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan. Pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.
Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
Langkah menyusun persuasi:
- Menentukan topik/tema
- Merumuskan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan
- Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
Contoh
Contoh tema/topik yang tepat untuk persuasi:
- Katakan tidak pada NARKOBA,
- Hemat energi demi generasi mendatang,
- Hutan sahabat kita,
- Hidup sehat tanpa rokok,
- Membaca memperluas cakrawala.
Contoh karangan persuasi pada umumnya:
Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga.
Jumat, 25 Desember 2009
Pengaruh Iklan Wings
Debut Mie Sedaap yang melesat tinggi memang di luar perkiraan.. Belum setahun diluncurkan (April 2003), sudah berhasil mengambil 12% pangsa pasar Indofood. Jika total pasar mi instan Rp 8 triliun/tahun -- 90% di antaranya dikuasai Indofood -- berarti Wings telah menguasai Rp 864 miliar. Angka yang sangat fantastis untuk ukuran produk baru. ?Padahal kami hanya memanfaatkan pasar yang masih terbuka lebar. Tapi, kalau sambutan pasar bagus sekali, sayang tidak di-maintain,? kata Rudy Bonardy, Manajer Merchandise & Promosi GW.
Wings pasti tidak sekadar coba-coba dalam mengembangkan Mie Sedaap ini. Ia tentu sudah berpikir serius bagaimana merangsek ke industri makanan dan sekaligus menghadapi Indofood. Wings menyadari tidak mudah menembus benteng pertahanan Indofood yang citra produknya Indomie sudah sangat bagus. Makanya, untuk mendapatkan hasil maksimal, menurut Rudy, Wings membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk melakukan riset hingga menemukan formula rasa yang pas dan berbeda dari yang sudah ada. Begitu pula untuk menggodok konsep produk, program komunikasi dan pemasaran, menurut Bambang K. Kusumo Husodo, Pengarah Kreatif (Creative Director) Bintang Pratama yang banyak menangani iklan GW, memakan waktu hampir satu tahun. ?Mie Sedaap sengaja masuk pasar menengah-bawah, tapi menawarkan kualitas istimewa,? papar Bambang tentang Mie Sedaap yang dijual dengan harga murah, Rp 625-Rp 750 /bungkus.
Dengan strategi promosi yang agresif dan kampanye iklan provokatif -- yang menurut data Nielsen Media Research menghabiskan anggaran iklan sekitar Rp 56,17 miliar -- permintaan Mie Sedaap terus mengalir deras. Karena banyaknya permintaan, Wings sempat kewalahan hingga hanya bisa memenuhi 10% dari order pengecer dan toko. Namun, kondisi itu sudah diperbaiki. Selain kini sudah menambah mesin, Wings juga menambah kapasitas produksi di dua pabrik Gresik (Surabaya) dan Seroja (Bekasi). Dari segi produk pun, kini sudah disiapkan lima varian rasa baru yang siap diluncurkan ke pasar , melengkapi tiga varian rasa yang terdahulu. ?Tunggu saja, masih banyak gebrakan Wings di sektor makanan mi instan,? ujar Bambang.
Reaksi pesaing, Indofood, bisa diduga: kebakaran jenggot. Demi mempertahankan superioritasnya, ia bahkan nekat meluncurkan tiga fighting brand sekaligus: Mie Sayaaap, Sarimi dan SuperMi Sedaaap. Ketiganya diluncurkan dengan niat membenturkan diri dengan Mie Sedaap. Mie Sayaaap, misalnya, dibuat dengan nama yang kedengarannya sangat mirip. Lalu muncul Sarimi yang ditambah ekstra bawang goreng mirip Mie Sedaap yang juga menjual keunggulan bawang goreng. Terakhir, lahir SuperMi untuk memperkuat pasukan penggempur Mie Sedaap. Kemasan SuperMi ini dipermak habis hingga menyerupai kemasan Mie Sedaap. Di bawah tulisan SuperMi kemasan baru, dipasang kata ?Sedaaap? yang bentuk font-nya persis Mie Sedaap.
Akhirnya, pertarungan frontal tak bisa dihindari lagi. Meskipun E. William Katuari dan Freddy I Katuari, CEO GW mengatakan kepada SWA, tidak ingin saling menggigit dan lebih suka dengan sharing pertumbuhan, reaksi Indofood tidak bisa dicegah. ?Sejak awal kami tidak bermaksud menggoyang pasar,? William menegaskan. Alasannya, bila terlalu menggoyang pasar, akan timbul reaksi dan mengakibatkan kolaps. ?Lebih enak masuk pasar dengan smooth,? ungkap William mengenai strateginya.
Prinsip bergerak mulus dan hati-hati ini memang selalu diterapkan Wings dalam menggarap pasar consumer goods di Indonesia. Lihat saja, Wings tidak pernah bersikap frontal terhadap pemimpin pasar. Bahkan untuk menghindari perang frontal, ia tidak pernah menempatkan produknya sebagai pemimpin pasar. ?Tidak ada satu pun produknya yang menunjukkan diri sebagai produk perintis,? ungkap Simon Jonathan, CEO Brandmaker. Wings, menurut Simon, hanya mengikuti dan memproduksi produk yang sudah ada di pasar. Meskipun umumnya perusahaan ingin produknya dianggap sebagai inovator yang first in the mind dan first in the market, Wings berbeda. Ia justru merasa nyaman dan aman jika mengekor apa yang sudah ada di pasar.
Bagi Wings, pilihan itu sangat menguntungkan. Ia bisa aman dan bergerak bebas tanpa khawatir mendapat sorotan dan perhatian pesaing. Makanya, kebanyakan pesaing Wings selalu terlambat menyadari kehadirannya. Rinso (Unilever) mulai tergagap-gagap ketika So Klin sudah merajalela dengan membagi hadiah piring dan gelas. Begitu pula Surf (Unilever) yang ketinggalan kereta dari Daia. Molto juga baru terbangun dari tidur nyenyaknya, setelah So Klin Pewangi sudah ke mana-mana dengan Agnes Monicanya.
Namun di pihak lain, cara diam-diam itu bisa berdampak negatif. Wings lalu dipersepsikan sebagai produk me too. Produknya dianggap ikut-ikutan Malah, ada kesan, Wings memang memilih menjadi follower. Ia tidak takut dipersepsikan sebagai perusahaan me too. Simon menilai, hal itu karena Wings sadar dan rasional menjadi perusahaan me too.
Baik William maupun Freddy mengelak jika produk-produknya tergolong me too. ?Lho, mana bisa? Kami tidak pernah bikin produk tanpa plus,? tukas William. Menurutnya, Wings selalu memberi unsur baru. Sumber SWA yang bekerja di bagian intelijen pemasaran membenarkan pernyataan William. Menurutnya, Wings memang selalu menambahkan unsur atau komposisi tambahan baru, tapi hal itu berangkat dari formulai yang sama. ?Bolehlah disebut better me too,? katanya sambil tertawa.
Sumber SWA ini mengatakan, proses peniruan yang dilakukan Wings tergolong hebat, yakni melalui proses scanning. Biasanya, seluruh produk yang ada di pasar sudah di scan. Bahkan, untuk produk-produk baru yang masih terdaftar di Deperindag pun Wings sudah punya bahan dan formulanya. ?Mereka mirip CIA,? katanya sambil tertawa. Dari hasil scanning itu, Wings mempersiapkan formula tambahan yang digunakan untuk daya saing membedakan. Contohnya, Smile Up (Lionindo) vs. Close Up (Unilever). Untuk membedakan dari pesaing, Smile Up menambahkan zat pemutih dan antibakteri yang belum dipakai Unilever.
Apa pun caranya, menurut Darmadi Durianto, pengamat pemasaran yang juga pengajar di IBII menilai sebagai keunggulan kompetensi Wings. Ia menganggap, strategi imitasi sah-sah saja, toh Wings selalu menambahkan diferensiasi pada produk. ?Cara Wings ini kombinasi antara me too marketing dengan creative marketing strategy,? ungkapnya.
Bambang dari Bintang Pratama, bisa memahami pandangan orang tentang kliennya yang dipersersepsi sebagai pengikut dan menghasilkan produk-produk me too. Menurutnya, anggapan itu, bisa ya dan bisa tidak. Iya, karena memang sebagian besar produk yang ada di tengah pasar mirip dengan produk yang sudah ada dan memimpin lebih dahulu di pasar. Namun, bisa juga dikatakan tidak karena produk-produk Wings terbukti mempunyai keunggulan lain yang tidak dimiliki pesaing. Produk-produk ini terbukti mampu bicara di pasar, bahkan tidak jarang Wings memelopori kehadiran produk baru lebih dulu.
Misalnya, ketika ibu rumah tangga mulai gelisah karena harga detergen terus membubung tinggi, dari semula cuma Rp 2.500 / kg bergerak naik menjadi Rp 10.000/kg di masa krisis pertengahan 1998, Wings datang mengeluarkan detergen baru Daia dengan harga Rp 7.000/kg. Kontan saja, para ibu yang pada waktu itu benar-benar tercekik oleh lonjakan harga kebutuhan pokok yang meroket tanpa kendali, menyambut gembira. Daia diserbu pembeli. Dalam hitungan bulan, Daia langsung meninggalkan Rinso (Unilever) ataupun saudara tuanya, So Klin hingga hasil audit ritel SRI ACNielsen menunjukkan, Daia meraih 30% pangsa pasar, sementara Rinso dan So Klin masing-masing cuma 20% .
Tidak seperti sangkaan orang cuma bisa meniru, di sini Wings justru memelopori lahirnya detergen murah. Wings bereaksi cerdik tatkala melihat Rinso ataupun So Klin meninggalkan pasar kisaran harga Rp 7.000-an, sementara produk menengah semacam Surf pun belum ada. Dari hasil memelototi pasar, Wings melihat daya beli masyarakat merosot, sehingga perlu detergen murah. ?Ada peluang pasar yang ditinggalkan dua merek itu,? ungkap Bambang yang mengikuti kelahiran Daia. Karena keputusannya berlangsung cepat, persiapan pembuatan iklan dan promosinya pun cukup mendadak. ?Kami cuma diberi waktu satu bulan mulai produksi hingga iklan ditayangkan,? lanjut Bambang yang menganggap iklan Daia sangat mengesankan. ?Ada faktor emosional yang terlibat di dalamnya,? ungkap Bambang yang bangga menciptakan slogan citra (tag line): Pakai Daia, lupakan yang lain -- yang menggigit.
Iklan?iklan GW yang sebagian besar (75%) diserahkan ke biro iklan DM Pratama, sisanya ke FCB untuk produk?produk aliansi dengan Lion Corporations, seperti Ciptadent, Smile Up, Kodomo, serta Matari Advertising untuk iklan Fresh dan So Klin Pembersih Lantai, memegang peran kunci dalam pengembangan produk. Dikatakan Simon, gaya iklan Wings selalu bicara mengacu langsung pada produknya dan memacu orang dengan cepat membeli produk itu. Dengan frekuensi tayang di media elektronik, baik teve maupun radio serta billboard yang sangat tinggi, memancing orang suka atau tidak suka pada produk itu akhirnya memutuskan membeli. ?Promosi yang gencar itu menimbulkan efek psikologis bagi konsumen bersikap impuls buying,? papar Simon.
Bambang mengakui, tipikal beriklan GW memang ingin produknya dapat diminati, dicoba, dibeli dan bahkan diloyali. Pertimbangannya, agar dapat tampil beda dari pesaing utama. Selain itu, ia menyadari, sudah ada produk pemimpin yang memiliki citra kuat di pasar. ?Kalau kami ikut-ikutan membangun citra, konsumen akan sulit mengingatnya,? demikian alasannya.
Dengan objektif komunikasi seperti itu, menurut Bambang, hasilnya memang bukan iklan yang bisa memberikan penghargaan Citra Pariwara. Karakter iklan-iklannya cenderung lugas dan komunikatif. ?Seperti keinginan klien (GW), mereka menghendaki iklan yang mudah dikenal dan dimengerti konsumen,? kata Bambang yang sering berhubungan dengan F. Henry Katuari, Direktur PT Sayap Mas Utama yang bertanggung jawab di bidang promosi dan pemasaran.
Di mata Bambang, Henry memiliki insting tajam dalam membaca dan memprediksi kondisi pasar. Ia bisa tahu (biasanya tepat), jika sebuah produk dan iklan akan direspons positif atau sebaliknya oleh pasar. Kerja sama ini semakin enak karena Henry bekerja cepat dan tidak menyukai formalitas. Banyak keputusan penting yang segera dituntaskan, termasuk dalam eksekusi iklan. Seperti ketika meluncurkan So Klin MB, hanya membutuhkan waktu 10 menit dari ide pembuatan iklan hingga akhirnya disetujui. ?Beliau cuma bilang, tolong buatin iklan So Klin yang saya jual dengan harga Rp 500. Cari model iklan yang lucu dan spontan,? kata Bambang menirukan. Dari permintaan lisan itu, diterjemahkan dalam So Klin MB yang berarti: Mutunya Bagus, Murah Barangnya, Mencuci Bersih, dan Mencuci Banyak, dengan menggunakan bintang iklan Omas (komedian). ?Pak Henry langsung setuju dengan usulan kami,? Bambang teringat Pak Henry sejak awal yakin produk itu akan sukses. ?Eh, ternyata benar juga dugaannya,? lanjut Bambang.
Kecepatan membuat keputusan menjadi kekuatan GW yang sulit ditandingi. Institusi besar ini, dalam pandangan Liza Felicia Wulandari, Direktur The Advisory, memiliki sistem organisasi dan pola kerja yang sangat fleksibel, sehingga memungkinkan mengambil keputusan-keputusan penting dalam waktu singkat.
Sistem organisasi yang fleksibel ini sulit dijumpai di perusahaan multinasional Unilever atau perusahaan nasional Indofood, sekalipun. Pasalnya, sistem ini cenderung mengingkari struktur organisasi vertikal, dan menghilangkan jenjang birokrasi yang cenderung berbelit-belit. Pada Wings, setiap posisi direktur, memiliki kewenangan yang sama untuk membuat keputusan penting menyangkut operasional perusahaan sehari-hari. Sementara itu, para board of director yang terdiri atas keluarga dan beberapa profesional -- jumlahnya diperkirakan 12 orang -- lebih berurusan dengan keputusan strategis jangka panjang. ? Tidak ada one man show. Setiap keputusan hasil dari teamwork,? sanggah William, bahwa tidak ada dominasi di tubuh GW.
Selain fleksibel, organisasi perusahaan Wings juga sederhana. Simon melihat, dengan penampilan yang sederhana itu dapat mengefisienkan biaya produksi sehingga dapat menjual dengan harga murah -- isu sangat menarik pada Wings. Secara umum, Wings memang tidak pernah meluncurkan produk-produk premium dengan harga premium. Ia selalu memasang harga di bawah pemimpin pasar . Apalagi produk Wings menyasar pasar menengah-bawah, sehingga harga yang ditawarkan pun cenderung murah.
Simon mengatakan, strategi harga Wings ini jitu karena ia masuk ke target pasar ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan harga jual produk. ?Buat apa beli barang mahal harganya, jika ada barang kualitas hampir sama dijual dengan harga murah,? demikian sering diungkapkan ibu-ibu. Dalam hal ini, Wings jitu memosisikan produk dan harga untuk target sasarannya. Di lain pihak, Darmadi melihat, strategi ini merupakan cara cerdik Wings guna memberikan value lebih besar kepada konsumen. Wings masuk dengan harga lebih murah dari pemimpin pasar, tetapi sengaja mempersepsikan sama ? bahkan lebih ? kualitasnya dari pemimpin pasar. ?Dengan begitu, perceived value Wings sangat tinggi,? paparnya. Liza menambahkan, Wings tahu persis bagaimana memanfaatkan komposisi biaya yang diwujudkan dalam bentuk harga. ?Jadi, ia memiliki kemampuan dalam menerapkan pricing policy, sehingga harga produknya bisa terjangkau masyarakat,? tutur Liza.
Ada asumsi lain, karena Wings menguasai bahan baku dan bahan setengah jadi untuk bahan dasar sabun dan detergen, sehingga ia bisa menawarkan harga lebih murah. ?GW main di spread margin. Karena beban produknya rendah, otomatis marginnya bisa lebih tinggi,? ungkap sumber SWA. Malah, menurutnya, Wings menancapkan komitmen: produk-produknya harus yang termurah.
William menyangkal jika dukungan industri hulu menjadikan harga jual produknya murah. Menurutnya, antara industri hulu dengan harga jual tidak saling berhubungan. Masing-masing unit usaha memiliki aturan main sendiri, termasuk dalam penjualan produk dan mencari profit sendiri. Tidak mungkin terjadi komitmen khusus, karena tidak akan membuat perusahaan itu kompetitif. Selain itu, William melihat, monopoli akan membuat perusahaan tidak efisien. ?Kalau ada keyakinan, toh produknya pasti dibeli, ah itu kan mati,? ia menandaskan.
Soal harga murah, William menegaskan, pasti Wings tidak menjual rugi. ?Yang penting kami bisa survive, menjual produk lebih baik dengan harga yang terjangkau,? ujar William, dan menurut dia, dalam perkembangannya, sebenarnya harga jual produk Wings hampir sama dengan pesaing utama. Bahkan, tidak jarang harga per bungkusnya bisa lebih mahal. Namun, jika dihitung dari per wash?nya, William meyakini, pasti lebih murah. ?Sayangnya hal itu tidak dipahami banyak orang,? katanya.
Freddy melihat kecenderungan konsumen sekarang sangat kritis. Mereka selain menghendaki harga murah, juga menuntut kualitas baik. Hal ini, menurutnya, membuat Wings harus hati-hati menyikapi keinginan mereka. Wings harus dapat membaca tren yang berkembang di pasar dan mampu membaca dinamika yang terjadi di sana. Sebab, bagi Wings, konsumen adalah segala-galanya. Prinsip ini disampaikan William. Menurutnya, apa yang dicapai Wings saat ini karena tiga hal. Pertama, karena Wings tahu apa yang dikehendaki konsumen. Untuk bisa tahu, William mengaku, harus turun ke lapangan. Meskipun sudah mencapai posisi seperti sekarang, ia tidak segan-segan turun ke kali untuk melihat kebiasaan mandi dan mencuci masyarakat . ?Itu sikap paling penting yang harus dimiliki Wings,? ujarnya.
Kedua, Wings harus tahu bagaimana memenuhi kehendak konsumen. Caranya, harus ada pengembangan produk yang kuat dan inovasi produk. Ketiga, Wings harus paham teknologi. Yang dimaksudkan, teknologi baru yang berkembang di dunia toiletries ataupun aplikasinya. Contohnya, di luar negeri banyak detergen dicampur dengan bleach, sedangkan di Indonesia bleach selalu dipisah karena bisa rusak. Sudah lebih dari 6 tahun ini William melakukan riset bagaimana menstabilkan bleach agar tidak rusak. ?Tapi sampai sekarang belum ketemu caranya,? ujarnya terus terang.
Teknologi lain yang dikuasai Wings dan menjadi kekuatannya, menurut sumber SWA, teknologi parfum yang disertakan dalam sabun ataupun detergen. Pasalnya, Wings memiliki pakar parfum, Fifi Sutanto yang secara khusus belajar mengenai parfum di Prancis. Sumber SWA mengatakan, keandalan Fifi dalam memberikan aroma produk Wings sudah teruji, karena hasil survei pasar mengatakan bahwa aroma produk Wings jauh lebih disukai ketimbang produk sejenis lainnya .
Teknologi ini bisa pula termasuk teknologi distribusi. Harus diakui, sistem distribusi telah berkembang dahsyat yang mengakibatkan perubahan lanskap pasar dan pemetaaannya. Menghadapi situasi demikian, Wings tampak sangat hati-hati menyikapi. Go Siang Chen, Direktur Integrity Consulting, Surabaya, mengatakan, bahkan Wings menjadikan distribusi sebagai faktor yang bisa mengurangi harga jual. Keunggulan distribusi Wings bisa memendekkan jalur distribusi . Mata rantai distribusi Wings berjalan melalui inti (depo), diteruskan ke titik wholesaler-reatiler dan berakhir di retailer-wholesaler.
Kresnayana Yahya, Direktur Enciety, Surabaya menambahkan, dalam distribusi, Wings bisa menerobos dan eksis di pasar-pasar becek. Melalui depo-depo yang ada di hampir semua kabupaten di Pulau Jawa, titik-titik distribusi ini ditangani para pengecer lokal yang sudah memiliki ikatan emosional dengan pemiliknya. Sehingga, mereka sulit ditembus oleh produsen lain, meskipun diiming-imingi bonus ataupun hadiah.
Ciri khas perusahaan lawas yang sudah eksis puluhan tahun memang demikian. Biasanya mereka sudah bermitra puluhan tahun dengan para pengecer dan pedagang. Kesetiaan dan loyalitasnya sudah teruji dengan baik, sehingga hal ini menjadi kekuatan tersendiri bagi Wings. Praktisi distribusi perusahaan besar yang enggan disebutkan namanya mengakui, model distribusi Wings yang mampu menyentuh berbagai lapisan pedagang, merupakan kenyataan yang luar biasa dan penting. ?Tidak mudah untuk bisa menyentuh segala lapisan pedagang. Model distribusi Wings sangat merata dan intensif,? pujinya berkali-kali.
Namun, sumber SWA ini juga tidak bisa memungkiri, kesuksesan distribusi Wings, antara lain juga berkat iklan-iklannya yang merakyat dan gencar. Bagaimanapun harus diakui, jika iklan-iklan itu terus mencecar para konsumen, maka demand dengan sendirinya datang. Dengan jaringan distributor yang otomatis terbentuk dengan baik , pada akhirnya kekuatan bisa dipastikan sangat merata dan merakyat. ?Kedua strategi ini diintegrasikan sangat baik oleh Wings,? paparnya.
Iklan-iklan Wings, harus diakui, benar-benar royal. Nielsen Media Research mencatat sepanjang 2003 , setiap produk Wings, setidaknya menghabiskan anggaran belanja iklan di atas Rp 14 miliar. Daia, misalnya, membakar belanja iklan hingga Rp 58,39 miliar (2003) dan Rp 4, 6 miliar untuk dua bulan terakhir ini. Begitu pula detergen So Klin (lima varian) menghabiskan anggaran iklan Rp 124,7 miliar sepanjang 2003. Adapun So Klin Pewangi, membutuhkan biaya iklan Rp 34,14 miliar di 2003. ? Wah, kami tidak bisa komentar tentang hal ini,? kata Bambang mengenai banjir iklan di Wings. Sebuah sumber mengatakan, billing iklan DM Pratama tahun 2003 untuk produk-produk Wings mencapai lebih dari Rp 250 miliar. ?Maaf, saya tidak bisa berkomentar,? jawab Bambang ketika didesak lagi.
Yang menarik, karakter iklan?iklan Wings sangat berciri khas. Simon memastikan, iklan-iklan Wings tidak ada yang mengandalkan citra hingga menimbulkan prestise tersendiri. Gaya iklan Wings, menurut Simon, bicara benar mengacu langsung pada produk dibuat untuk siapa. Bambang tidak menyangkal pendapat itu. Menurutnya, dengan memiliki ciri khas, sudah cukup bagi Wings berkomunikasi. ?Berarti kami sudah mempunyai posisi komunikasi tersendiri di tengah pasar,? ujarnya ?Yang penting, iklan kami langsung ke sasaran target pasar untuk memakai produk kami,? lanjut Bambang. Pendekatan ini, menurutnya, berbeda dari Unilever yang sebagian besar cenderung membangun citra kuat. ?Wajarlah, produk Unilever sudah pemimpin di pasar,? komentar Bambang menunjukkan objektif komunikasi Unilever dengan GW memang berbeda.
Unilever memang berbeda dari Wings, tapi menurut Liza, strategi portofolio merek Wings tidak kalah yahud dari perusahaan multinasional ini. Dalam hal merek, Liza melihat strategi yang dikembangkan Wings jeli dan berani. Ketika suatu produk dengan merek barunya akan diluncurkan, Wings berani jorjoran secara terus-menerus melakukan brand awareness lewat iklan. Di sisi lain, ketika ekuitas mereknya dianggap sudah kuat, ia berani mengekstensifikasi merek. ?Itu terlihat pada So Klin yang terus dikembangkan sedemikian luas,? papar Liza. Strategi portofolio merek ini, menurut Liza, pada muaranya akan memberikan efisisensi dari segi biaya.
Wings tahu persis kekuatan iklan. Bahwa dengan beriklan gencar, ia akan memiliki kekuatan dan daya tarik produknya terhadap masyarakat. ?Dalam hal ini Wings sangat berani mengelola portofolio mereknya,? Liza menandaskan.
Dengan keunggulan yang dimiliki serta jurus pemasaran yang dikembangkan, tentunya Wings tidak boleh lengah. Hermawan Kartajaya menyarankan, Wings harus terus konsisten dengan apa yang telah dilakukannya. Sebagai produk challenger, ia harus tetap mempertahankan semangat dan antusiame untuk menghadapi merek-merek besar. Spirit ini, sangat dibutuhkan untuk memompa lahirnya penantang baru di dunia usaha.
Namun, satu hal yang harus diwaspadai dari sekarang adalah sumber daya untuk mendukung seluruh kegiatan itu. ?Mau tak mau, Wings membutuhklan strategic effort, bukan fisical effort, agar bisa masuk dan bersaing di tingkat yang lebih atas lagi,? Liza menyarankan.
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=66